Selasa, 13 November 2012

Sistem Pakar Analisa Kepribadian Manusia Berdasarkan Teori Jung


JOB DESCRIPTION

NO
NAMA
DESCRIPTION
1.
Amelia Sewaka
*      Marimin. 1992. Pengenalan Sistem Pakar. Jakarta: Elex Media Komputindo
*      Naisaban, L. (2003). Psikologi Jung : Tipe Kepribadian Manusia Dan Rahasia Sukses Dalam Hidup (Tipe Kebijaksanaan Jung). Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

2.
Chitra Hardianti Rulliani
*      Kusumadewi. 2003. Artificial Intelligent (Teknik dan aplikasinya). Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu
*      Sandy, S.A. 2004. Sistem Pakar Analisa Kepribadian Manusia Berdasarkan Teori Jung Dan Myers-Briggs Types Indicator. Bandung: Universitas Komputer Indonesia

3.
Destri Chaerani
*      Staugaard, Andrew C. 1987. Robotics; Artificial Intelligent. Prentice-Hall.
*      Dhani, safia. 2009. Perancangan sistem pakar untuk diagnosa penyakit anak. Medan: Universitas Sumatra Utara

4.
Mariya Kibtiyah
*      Suryabrata, S. 1982. Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali
*      Theodora, L.C. 2011. Sistem pakar untuk mendiagnosa kecenderungan perilaku abnormal. Yogyakarta:  Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Dan Komputer (Amikom)

5.
Sofie Maulida
*      Sarwono, S.W. 1995. Teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Grafindo Persada

6.
Tiara Handa Saputri
*      Budiman, irfan. 2008. Pembuatan aplikasi tes kepribadian berbasiskan sistem pakar menggunakan visual studio.net. Bekasi: Universitas Gunadarma.
*      Bernard, W., Leopold, J. (2002) Tes Analisa IQ Dan Kepribadian Manusia. Bandung : Pionir Jaya._ _Suparman. (1996). Mengenal Artificial Intellegence. Yogyakarta : Andi Offset.


SISTEM PAKAR

A.    Sejarah Sistem Pakar
Sistem pakar mulai dikembangkan pada pertengahan tahun 1960-an oleh Artificial Intelligence Corporation. Periode penelitian kecerdasan buatan ini didominasi oleh suatu keyakinan bahwa nalar yang digabung dengan computer canggih akan menghasilkan prestasi pakar atau bahkan manusia super. Suatu usaha kearah ini adalah General Purpose Problem Solver atau GPS yang dikembangkan oleh Allen Newell, John Cliff Shaw, dan Herber Alexander Simon. GPS merupakan sebuah percobaan untuk menciptakan mesin yang cerdas.

B.     Pengertian Sistem Pakar
Menurut Marimin (1992), sistem pakar adalah sistem perangkat lunak komputer yang menggunakan ilmu, fakta, dan teknik berpikir dalam pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang biasanya hanya dapat diselesaikan oleh tenaga ahli dalam bidang yang bersangkutan. Menurut Martin dan Oxman (dalam Kusumadewi, 2003) Sistem pakar adalah sistem berbasis computer yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah, yang biasanya hanya dapat diselesaikan oleh seorang pakar dalam bidang tertentu.
Menurut Ignizio (dalam Kusumadewi, 2003) Sistem pakar merupakan bidang yang dicirikan oleh system berbasis pengetahuan (Knowledge Base System), memungkinkan adanya komponen untuk berpikir dan mengambil kesimpulan dari sekumpulan kaidah. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem pakar adalah sebuah perangkat lunak komputer yang memiliki basis pengetahuan untuk domain tertentu dan menggunakan penalaran inferensi menyerupai seorang pakar dalam memecahkan masalah.

C.    Konsep dasar sistem pakar
Sistem pakar terdiri dari beberapa konsep yang harus dimilikinya. Konsep dasar dari suatu sistem pakar sebagai berikut:
1.      Keahlian
Adalah suatu pengetahuan khusus yang diperoleh dari latihan, belajar dan pengetahuan. Pengetahuan dapat berupa fakta, teori, aturan, strategi global untuk memecahkan masalah.
2.      Ahli (expert)
Melibatkan kegiatan mengenali dan memformulasikan permasalahan, memecahkan masalah secara cepat dan tepat, menerangkan pemecahannya, belajar dari pengalaman, merestrukturisasi pengetahuan, memecahkan aturan serta menentukan relevansi.
3.      Mentransfer keahlian (transfering expertise)
Adalah proses pentransferan keahlian dari seorang pakar kedalam komputer agar dapat digunakan oleh orang lain yang bukan pakar. Pengetahuan tersebut ditempatkan ke dalam sebuah komponen yang dinamakan basis pengetahuan.
4.      Menyimpulkan aturan (inferencing rule)
Merupakan kemampuan komputer yang telah diprogram. Penyimpulan ini dilakukan oleh mesin inferensi yang meliputi prosedur tentang penyelesaian masalah.
5.      Peraturan (rule)
Diperlukan karena mayoritas dari sistem pakar bersifat rule - based sistems, yang berarti pengetahuan disimpan dalam bentuk peraturan.
6.      Kemampuan menjelaskan (explanation capability)
Adalah karakteristik dari sistem pakar yang memiliki kemampuan menjelaskan atau memberi saran mengapa tindakan tertentu dianjurkan atau tidak dianjurkan.

D.    Ciri-Ciri Sistem Pakar
Adapun ciri-ciri sistem pakar adalah :
1.      Mudah dimodifikasi, yaitu dengan menambah atau menghapus suatu pengetahuan dari basis pengetahuannya.
2.      Memiliki kemampuan untuk beradaptasi
3.      Terbatas pada bidamng spesifik
4.      Output tergantung dialog dengan pengguna (user)
5.      Knowledge base dan inferensi terpisah

E.     Modul Penyusun Sistem Pakar
Suatu sistem pakar disusun oleh tiga modul utama (Staugaard, 1987), yaitu :
1.      Modul Penerimaan Pengetahuan (Knowledge Acquisition Mode)
Sistem berada pada modul ini, pada saat ia menerima pengetahuan dari pakar. Proses mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan yang akan digunakan untuk pengembangan sistem, dilakukan dengan bantuan knowledge engineer. Peran knowledge engineer adalah sebagai penghubung antara suatu sistem pakar dengan pakarnya
2.      Modul Konsultasi (Consultation Mode)
Pada saat sistem berada pada posisi memberikan jawaban atas permasalahan yang diajukan oleh user, sistem pakar berada dalam modul konsultasi. Pada modul ini, user berinteraksi dengan sistem dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sistem.
3.      Modul Penjelasan (Explanation Mode)
Modul ini menjelaskan proses pengambilan keputusan oleh sistem (bagaimana suatu keputusan dapat diperoleh).

F.     Komponen-Komponen Sistem Pakar
Sistem pakar terdiri dari tiga komponen pendukung, yaitu :
1.       Pangkalan Pengetahuan (Knowledge Base)
 Berisi fakta-fakta, ide, interaksi suatu domain tertentu,
2.      Motor Inferensi (Inference Engine)
 Bertugas menganalisa pengetahuan dan menarik kesimpulan berdasarkan pangkalan pengetahuan
3.      Antar muka Pemakai (User Interface)
 Berfungsi sebagai media yang melakukan komunikasi dengan pemakai

G.    Bidang-Bidang Pengembangan Sistem Pakar
Bahasa pemrograman juga turut menentukan pengembangan sistem pakar. Pada tahun 1970-an dimana sistem operasi masih berbasis teks, pengembangan sistem pakar hanya memanfatkan bahasa pemrograman seperti prolog, LISP, Shell sehingga pengembangan sistem pakar pada waktu itu menjadi sangat sulit. Pada tahun 1956 istilah AI mulai dipopulerkan oleh John McCarthy sebagai suatu tema ilmiah dibidang komputer. AI memiliki potensi dalam memecahkan masalah, tetapi unggulan utama ada dalam bentuk pengetahuan dari pakar manusia secara heuristik dalam sistem pakar. Heuristik dalam sistem pakar tidak menjamin hasil semutlak sistem kecerdasan buatan lainnya, tetapi menawarkan hasil yang lebih spesifik untuk dimanfaatkan karena sistem pakar berfungsi secara konsisten seperti seorang pakar manusia.
Untuk memahami perancangan sistem pakar, perlu dipahami mengenai siapa saja yang berinteraksi dengan sistem. Mereka adalah :
1.      Pakar (domain expert) : Seorang ahli yang dapat menyelesaikan masalah yang sedang diusahakan untuk dipecahkan oleh sistem.
2.      Pembangunan pengetahuan (knowledge engineer) : Seseorang yang menerjemahkan pengetahuan seorang pakar dalam bentuk deklaratif sehingga dapat digunakan oleh sistem pakar.
3.      Pengguna (user) : Seorang yang berkonsultasi dengan sistem untuk mendapatkan saran yang disediahkan oleh pakar.
4.      Pembangun sistem (system engineer) : Seseorang yang membuat antar muka pengguna, merancang bentuk basis pengetahuan secara deklaratif dan mengimplementasikan mesin inferensi.


TEORI KEPRIBADIAN JUNG
                              
A.    Struktur Kepribadian Jung

Jung (1921, 1959, 1971, 1990) mengacu pada kepribadian total sebagai pikiran atau jiwa. Jiwa dipandang sebagai jaringan kompleks sistem berinteraksi satu sama lain. Energi psikis mengalir terus-menerus dari satu sistem ke sistem lain, dalam konstan berjuang harmoni. Tiga system saling bergantung utama jiwa yang dibedakan, yaitu sadar, ketidaksadaran pribadi dan kolektif sadar. Kepribadian manusia atau jiwa dibagi menjadi tiga sistem.
1.      Sadar
Menurut Jung (1971, 1990), sistem pertama dari kepribadian manusia atau jiwa adalah menyadari pribadi yang ego dan persona merupakan bagiannya. Ego adalah pusat kesadaran, tetapi bukan inti dari kepribadian. Ego adalah apa yang manusia lihat ketika mereka menggunakan kata "aku", dan persona adalah topeng atau peran bahwa orang mengadopsi di dunia luar, yang mendikte masyarakat. Ego tidak seluruh kepribadian, tetapi harus diselesaikan oleh diri lebih komprehensif, yang merupakan pusat kepribadian yang sebagian besar tidak sadar. Dalam sehat secara psikologis orang, ego mengambil posisi sekunder untuk diri sadar (Jung, 1921, 1959). Dengan demikian, kesadaran memainkan peran yang relatif kecil dalam psikologi analitis, dan penekanan yang berlebihan pada perluasan jiwa sadar seseorang dapat menyebabkan psikologis ketidakseimbangan.
2.      Personal sadar
Sistem kedua jiwa disebut ketidaksadaran pribadi. Sistem ini adalah unik untuk individu karena dibentuk oleh pengalaman individu. Itu ketidaksadaran pribadi mencakup semua ditekan, dilupakan, atau dianggap subliminally pengalaman dari satu individu tertentu. Isi dari ketidaksadaran pribadi disebut kompleks. Kompleks adalah sebuah konglomerasi emosional kencang dari terkait ide. Kompleks sebagian besar pribadi, tetapi mereka juga mungkin sebagian berasal dari pengalaman kolektif manusia, ketidaksadaran kolektif (Jung, 1954; 1969).
3.      Kolektif sadar
Sistem ketiga jiwa ini dikenal sebagai ketidaksadaran kolektif atau tujuan jiwa. Salah satu ajaran yang paling unik dari psikologi analitis adalah konsep ketidaksadaran kolektif (Feist & Feist, 2002; Möller, 1995). Tingkat yang lebih dalam jiwa objektif terdiri dari struktur universal dalam manusia. Oleh karena itu, isi dari ketidaksadaran kolektif kurang lebih sama bagi orang-orang di semua budaya (Jung, 1921, 1959).

B. Tipe-Tipe Kepribadian Menurut C.G. Jung
C.G Jung membagi kepribadian ke dalam dua tipe, yaitu:

1.      Ekstrovert
Orang-orang yang ekstrovert terutama dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia diluar dirinya. Orientasinya tertuju keluar. Pikiran, perasaan serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan social, maupun lingkungan nonsosial. Dia bersikap positif terhadap masyarakatnya. Ini sama artinya dengan hatinya terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan orang lain lancar. Bahaya bagi ektrovert ini adalah apabila ikatan kepada dunia luar itu terlampau kuat. Sehingga individu tenggelam dalam dunia objectif, kehilangan dirinya atau asing terhadap dirinya. Subjectivenya sendiri (suryabrata,1982).
Ciri-ciri orang ekstrovert berdasarkan tipologi Jung, yaitu orang dengan kepribadian ini kalau merasa tertekan akan menggabungkan dirinya diantara orang banyak sehingga individualitasnya berkurang maupun bertentangan masih dapat berhubungan karena individu tersebut tidak menarik diri. Bahkan lebih menyukai berdebat dan bertengkar, atau berusaha membentuk kembali (mengubah) dunia menurut polanya sendiri. Mereka tidak menyukai kesendirian, dan mereka cenderung konvensional dalam pemikirannya (sarwono, 1995).
2.      Introvert
Orang yang introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia dalam dirinya sendiri. Pikiran, perasaan serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh faktor-faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sulit bergaul, sulit berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain. Penyesuaian dengan hatinya sendiri baik. Bahaya bagi tipe introvert ini adalah kalau jarak dengan dunia objektinya terlalu jauh, sehingga orang lepas orang lepas dari dunia objectifnya (suryabrata, 1993)
Berdasarkan teori jung yang menyatakan beberapa ciri orang yang introvert, yaitu terutama dalam keadaan emosional atau konflik. Orang dengan kepribadian ini cenderung untuk menarik diri dan menyendiri. Mereka lebih menyukai pemikiran sendiri, daripada berbicara dengan orang lain. Mereka cenderung berhati-hati, pesimis, kritis dan selalu berusaha mempertahankan sifat-sifat baik untuk diri mereka sendiri. Sehingga dengan sendirinya mereka sulit dimengerti. Mereka seringkali memiliki banyak pengetahuan atau mengembangkan bakan diatas rata-rata dan mereka hanya dapat menunjukkan bakat mereka dilingkungan yang menyenangkan. Orang introvert berada pada puncaknya dalam keadaan sendiri atau dalam kelompok kecil tidak asing (Sarwono, 1995)


SISTEM PAKAR ANALISA KEPRIBADIAN MANUSIA BERDASARKAN TEORI JUNG

Pada masa sekarang ini perkembangan teknologi dan komunikasi dari waktu ke waktu dirasakan semakin meningkat pesat, terlebih lagi perkembangan di bidang teknologi komputer yang mendorong penggunaan dan pemanfaatan perkembangan teknologi tersebut secara luas di berbagai bidang dan aspek kehidupan, sehingga memudahkan masyarakat pada umumnya dan individu pada khususnya dalam menunjang kegiatan mereka sehari-hari. Salah satu contoh dari pemanfaatan dan penggunaan perkembangan teknologi komputer itu sendiri adalah di dalam ilmu pengetahuan, yang terdiri dari berbagai cabang ilmu pengetahuan. Salah satunya ialah di dalam cabang ilmu Psikologi.
Ilmu psikologi pada dasarnya bertujuan untuk dapat memahami sesama manusia, melihat hal tersebut dapat terlihat bahwa ilmu psikologi merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang sangat luas dan tidak menutup kemungkinan pemanfaatan teknologi terlibat di dalamnya. Selama ini di dalam ilmu psikologi sebagian besar masih menggunakan cara - cara dan metode lama dalam proses memahami dan mempelajari sisi psikologis suatu objek. Objek yang dimaksud disini adalah manusia dengan segala sikap dan tingkah lakunya. Mengamati Tingkah laku manusia sangat membantu dalam pengenalan diri. Salah satu cara yang membantu dalam pengenalan diri adalah dengan psikotes yang dapat menganalisa kepribadian dan dapat membantu dalam mengetahui kepribadian seseorang.
Kepribadian atau personality berasal dari kata persona yang berarti masker atau topeng, maksudnya apa yang tampak secara lahir tidak selalu menggambarkan yang sesungguhnya (dalam bathinnya). Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya.
Kepribadian merupakan sifat individual manusia, artinya tidak ada seorang pun yang memiliki kepribadian yang sama. Kepribadian bukanlah sesuatu yang salah atau benar, bukan pula sesuatu yang baik atau buruk. Tiap jenis kepribadian memiliki kelemahan dan kekuatannya sendiri. Pada dasarnya, pergaulan setiap hari adalah interaksi. Jung berhasil merumuskan tipe kepribadian manusia dengan istilah ekstrover (extrovertion) dan introver (introvertion), serta mengemukakan empat fungsi kepribadian manusia, yaitu, fungsi berpikir (thinking), fungsi perasa (feeling), fungsi pengindera (sensing) dan fungsi intuitif (intuition) yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Tipe Kepribadian Jung.
The Instant Insight Inventory adalah sebuah instrumen tes kepribadian yang dirancang oleh Mamchur (1984) untuk pengambilan tes secara cepat yang terdiri dari beberapa pernyataan/pertanyaan. Psikotes ini berisi pemahaman lengkap tentang preferensi psikologis manusia yang diharapkan dapat membantu manusia dalam upaya pemahaman dirinya. Masalah yang muncul adalah semua tes itu masih dilakukan secara manual baik dalam tes ataupun dalam penganalisaan. Kesalahan mungkin saja muncul pada saat penganalisaan karena manusia penuh dengan keterbatasan dalam kondisi fisik ataupun mental (human error). Oleh karena itu The Instant Insight Inventory akan diterapkan ke dalam bentuk aplikasi sistem pakar. Dengan adanya sistem pakar, seseorang pemakai dapat berkonsultasi dalam memecahkan masalah layaknya berkonsultasi langsung dengan seorang pakar sesuai dengan domain masalah tertentu yang diinput ke dalam sistem pakar tersebut.
Sistem pakar untuk mengukur kepribadian seseorang sebenarnya hanya merupakan alat bantu untuk menentukan ukuran kepribadian seseorang berdasarkan kategori-kategori kepribadian. Seorang pakar (dalam hal ini psikolog) dapat menetukan dengan pasti ukuran kepribadian seseorang. Kelebihan dari suatu sistem pakar terletak pada kemampuannya untuk bekerja terus menerus dan berada dalam kondisi yang maksimal, sistem pakar diciptakan bukan untuk menggantikan kedudukan seorang pakar, tetapi sebagai alat bantu dalam kepastian pengambilan keputusan, karena mungkin terdapat banyak alternatif yang dipilih secara tepat. Rancangan sistem pakar untuk mengukur kepribadian seseorang (tes kepribadian) memerlukan dua tahapan, yaitu :
1.      Tahap Pertama
Mentransformasikan berbagai informasi mengenai sikap dan tingkah laku seseorang yang langsung berhubungan dengan kepribadian melalui seorang pakar (dalam hal ini psikolog) ke dalam sistem pakar. Disamping mengumpulkan informasi dari seorang pakar, perlu juga ditambahkan informasi dari beberapa buku yang membahas mengenai kategori kepribadian.
2.      Tahap Kedua
Menerapkan informasi yang diperoleh ke dalam komponen sistem pakar.

Selain itu dalam teori kepribadian menurut Jung juga dapat menjadi sarana bagi user untuk mengenal lebih jauh kepribadiannya sendiri dalam upaya proses pencarian jati diri dan juga dapat memahami kepribadian sesamanya. Meskipun proses tersebut bukan proses yang mudah dan cepat, tapi membutuhkan waktu dan perjuangan untuk mencapainya dengan tujuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang di masa yang akan datang. Dalam kaitannya dengan teori tipe kepribadian menurut Jung, sistem pakar ini dapat melihat kepribadian introvert atau ekstrovertkah yang dimiliki oleh seorang individu.


KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa The Instant Insight Inventory adalah sebuah instrumen tes kepribadian yang dirancang oleh Mamchur (1984) untuk pengambilan tes secara cepat yang terdiri dari beberapa pernyataan/pertanyaan. Dalam teori kepribadian menurut Jung juga dapat menjadi sarana bagi kita untuk mengenal lebih jauh kepribadian kita. Sistem pakar ini dapat melihat kepribadian introvert atau ekstrovert yang dimiliki oleh seorang individu.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, irfan. 2008. Pembuatan aplikasi tes kepribadian berbasiskan sistem pakar menggunakan visual studio.net. Bekasi: Universitas Gunadarma.

Dhani, safia. 2009. Perancangan sistem pakar untuk diagnosa penyakit anak. Medan: Universitas Sumatra Utara.

Kusumadewi. 2003. Artificial Intelligent (Teknik dan aplikasinya). Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Marimin. 1992. Pengenalan Sistem Pakar. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Sandy, S.A. 2004. Sistem Pakar Analisa Kepribadian Manusia Berdasarkan Teori Jung  Dan
Myers-Briggs Types Indicator. Bandung: Universitas Komputer Indonesia.

Sarwono, S.W. 1995. Teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Grafindo Persada
Staugaard, Andrew C. 1987. Robotics; Artificial Intelligent. Prentice-Hall.
Suryabrata, S. 1982. Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali
Theodora, L.C. 2011. Sistem pakar untuk mendiagnosa kecenderungan perilaku abnormal.
Yogyakarta:  Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Dan Komputer (Amikom).



16.00



Selasa, 08 Mei 2012

artikel Psikologi Klinis 2

A. Pengertian Psikologis Klinis

Psikologis klinis menurut Witemer tahun 1912 adalah metode yang digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik pedagogis. Ada beberapa ciri yang terdapat dalam psikologis klinis :
1. Memiliki orientasi ilmiah-profesional yaitu adanya ciri berupa penggunaan metode ilmu dan kaidah psikologi, dalam pemberian bantuan terhadap indiovidu yang menderita kecemasan. Psikologi melalui intervensi dan evaluasi psikologis.
2. Menampilkan kompetensi psikologi, karena psikologi klinis terlatih dalam menggunakan petunjuk dan pengetahuan psikologi dalam kerja professional.
3. Menampilkan kompetensi klinisi karena berusaha mengerti orang lain
4. Ilmiah, karena menggunakan metode ilmiah untuk mencapai presisi dan objektivitas dalam cara kerja profesionalnya dengan tetap melakukan validasi untuk setiap individu yang ditangani
5. Profesional, karena lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang penting bagi individual, kelompok social dan komunitas untuk memecahkan masalah.

B. Orientasi Psikologi Klinis
Terdapat hubungan yang jelas dan dekat antara psikologi klinis dan psikologi abnormal dan kemudian tentu saja psikiatri. Tugas yang dihadapi psikologi klinis adalah memahami masalah-masalah yang dihadapi pasien dan cara pasien menyelesaikan aspek kepribadian. Untuk tujuan orientasi teoritis studi klinis mengenai kepribadian terdapat aspek kepribadian yang perlu dipahami :
1. Motivasi Adalah kebutuhan psikologi yang telah memiliki corak atau arah yang ada dalam diri individu yang harus dipenuhi agar kehidupan kejiwaannya terpelihara yaitu senantiasa dalam keadaan seimbang. Pada awalnya kebutuhan itu hanya berupa kekuatan dasar saja. Namun selanjutnya berubah menjadi suatu vector yang disebut motivasi karena memiliki kekuatan dan arah.
2. Kapasitas Kapasitas adalah karakteristik individu yang adjustic, termasuk dalam hal adalah kapasitas intelektual untuk mencapai tujuannya sendiri dan untuk tuntutan yang dikehendaki lingkungan. Pentingnya pemahaman mengenai kapasitas ini bagi psikologi klinis adalah untuk memperkirakan dalam bidang apa saja dan seberapa kuat individu memiliki sumber stress, baik dalam keadaan frustasi, konflik maupun tertekan.
3. Pengendalian Yang dimaksud dengan pengendalian adalah proses yang dilakuakan individu saat menggunakan kapasitasnya dan mengekang motivasi impulsive ke dalam saluran yang berguna bagi penyesuian dirinya, yang secara social diterima.

Perkembangan kemampuan mengendalikan diri terjadi sejak masa bayi. Tepatnya saat bayi mulai belajar menghadapi frustasi. Ada lima wujud pengendalian yaitu pengendalian berlebih (represi), lemah (under control), tentantif (cemas), terganggu disebut juga sebagai pengendalian yang inadequate dan pengendalian ideal (pengendalian yang melahirkan penyesuaian yang tepat).
Peranan Psikologi Klinis
Tugas professional seorang psikolog klinis adalah mengimplementasikan prinsip dasar psikologis klinis sebagai ilmu terapan. Berkaitan dengan tugas ini, ada beberapa peranan yang dimiliki psikolog klinis sebagai berikut :

1. Terapan Istilah khusus untuk psikologi adalah psikoterapi. Pada umunya terapi menampilkan empat gambaran kegiatan yaitu : Membantu hubungan murni yang bersifat memelihara hubungan antara terapis dan pasien.
a. membantu klien melakukan eksplorasi (pengalihan diri)
b. terapis dank lien bekerjasama memecahkan masalah
c. terapis membangun sikap dan mengerjakan ketrampilan atau cara kepada pasien untuk menggulangi stress.
2. Assesment Assessment adalah propses yang digunakan psikolog klinis untuk mengamati dan mengevaluasi masalah social dan psikologis pasien, baik menyangkut keterbatasan maupun kelebihannya.
3. Mengajar Mengajar adalah memberikan informasi dan pelatihan mengenai topic-topik yang termasuk ruang lingkup pengetahuan yang melandasi profesinya, seperti psikologi klinis, psikologi abnormal, dll.
4. Konsultasi Termasuk memberikan bimbingan bagi perseorangan, kelompok atau badan system dan organisasi untuk mengembangkan kualitas diri. Disebut konsultasi karena tujuan psikolog klinis dalam hal ini membantu pasien melalui pekerjaan atau permasalahan mereka.
a. Administrasi Dilaksanakannya oleh psikolog klinis sesuai dengan jabatannya dalam posisi manajerial seperti di RS, klinik, dll.
b. Penelitian Dikerjakan oleh psikologi klinis dalam berbagai macam bentuk riset investigasi, mengkaji keefektifan berbagai pendekatan terapi atau konsultasi, penyebab dan akibat dari disfungsi psikologis.
C. Psikologi Kesehatan
Seperti yang kita lihat pada pembahasan diatas, renovasi-renovasi di dalam pendekatan-pendekatan memiliki reaksi yang keras terhadap disiplin psikologi sendiri. Karena adanya minat terhadap bidang baru ini, suatu disiplin ilmu baru muncul. Definisi psikologi kesehatan mencakup definisi sebagai berikut :

1. Psikologi kesehatan menyangkut bagian khusus dari bidang ilmiah psikologi yang memfokuskan pada studi perilaku yang memiliki kaitan dengan kesehatan dan penerapan dari kesehatan ini.
2. Penekanan pada peran perilaku yang normal di dalam mempromosikan kesehatan (promosi kesehatan dan pencegahan dasar) pada level mikro, meso dan makro dan menyembuhkan penyimpangan kesehatan.
3. Banyak bidang psikologi yang berbeda dapat memberikan sumbangan kepada bidang psikologi kesehatan.
D. Pola Perilaku
Penelitian-penelitian yang terbaru banyak dilakukan untuk meneliti factor-faktor kepribadian dan atau pola-pola perilaku sebagai factor resiko untuk penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskuler.

1. Perilaku tipe A Tipe A pertama kali digambarkan secara jelas dan diukur oleh Friedman dan Rosenman di tahun 1959. aslinya hal ini digambarkan sebagai gaya perilaku dan emosi. Sekarang beberapa penulis memandang tipe A sebagai cirri sifat kepribadian yang pasti, sementara yang lain menggambarkan hal ini sebagai pola penggiatan perilaku yang kuat dan terus menerus yang biasanya merupakan dimulai dari diri sendiri. Tipe A meliputi disposisi perilaku, perilaku dan rsepon emosional yang khusus. Kebanyakan para penulis setuju dengan adanya tiga ciri-ciri utama tipe A :
a. Orientasi persaingan prestasi, ambisius, kritis terhadap diri sendiri.
b. Urgensi waktu, berjuang melawan waktu, tidak sabaran, melakukan pekerjaan berbeda-beda dalam waktu yang sama.
c. Permusuhan, mudah marah, kadang-kadang agresif. Khususnya selama 20 tahun pertama dan publikasi dan riset, nampaknya tipe A mempunyai hubungan kuat dengan CHD. Laki-laki tipe A mempunyai resiko
2 kali lipat untuk mengalami CHD. Sebagai tambahan, orang-orang tipe A memiliki gaya coping terhadap stress yang berbeda dan lebih cenderung untuk menggunakan control terhadap lingkungan mereka. Bagaimanapun sejak tahun 1980-an hasil-hasil riset menjadi lebih membingungkan dan banyak peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara perilaku tipe A dan penyakit jantung koroner sama sekali. Walaupun besarnya kesulitan-kesulitan dalam pengukuran perilaku tipe A, malahan definisi operasional perlu diperkuat dan penelitian epidemiologis masa depan harus mengusahakan secara prospektif memvalidasi komponen-komponen tipe A melawan perkembangan CHD. Tipe A juga telah diteliti pada anak-anak dan remaja. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tipe A lebih reaktif terhadap stress daripada anak-anak yang non tipe A. Pada umunya, anak-anak pria lebih memiliki kemungkinan meniru perilaku tipe A dan orang tua mereka daripada anak-anak perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa tipe A berkembang sebagai interaksi antara keturunan dan gaya pengasuhan. Selanjutnya Nay & Wagner mengetahui bahwa anak-anak tipe A memiliki harga diri lebih rendah, lebih eksternal locus of controlnya dan tingkat kecemasan lebih tinggi daripada teman-teman yang bukan tipe A. Mekanisme coping terhadap stress dan tipe kognisi juga mungkin berbeda antara subjek tipe A dan tipe B.
3. Kepribadian ketabahan Hardiness Tipe kepribadian atau pola perilaku lain yang sering dibicarakan akhir-akhir ini adalah ketabahan (hardiness atau hardy personality) sebuah gagasan konsep dari kobasa. Konseptualisasinya tentang hardiness sebagai tipe kepribadian yang penting sekali pada perlawanan terhadap stress, didapat dari teori eksistensial kepribadian. Dia mulai dengan adanya perbedaan-perbedaan interpersonal dalam control pribadi dan mengkombinasikan variable ini dengan yang lain, agar dapat dihasilkan tipe kepribadian yang lebih komprehensif. Hardiness memasukkan tiga sifat dasar :
a. Kontrol pribadi
b. Komitmen; tingkat keterlibatan dalam peristiwa-peristiwa, aktivitas-aktivitas dan orang-orang.
c. Tantangan; kecenderungan memandang adanya perubahan sebagai suatu kesempatan untuk tumbuh dan bukan suatu ancaman keselamatan.

Hardiness dianggap menjaga seseorang tetap sehat walaupun mengalami kejadian-kejadian hidup yang penuh stress. Meskipun Kobasa sendiri dan ahli lain menekankan bukti penelitian yang kuat yang mendukung keadaan dan relevansi hardiness, ada juga banyak kritik. Kritikan yang diberikan pada kepribadian tipe A berlaku pul untuk tipe hardiness; operasionalisasi komponen tersebut nampak sulit, tidak semua dari komponen membantu prediksi hasil kesehatan (misalnya tantangan) dan masalah utama tentang perannya penengah dalam kondisi dan perilaku kesehatan seseorang tidak terjawab dengan tuntas.
3. Lain-lain Optimisme dan perasaan pertalian akhir-akhir ini telah untuk melihat kemampuannya dalam ramalan penyembuhan pembedaan. Keduanya ditemukan sangat mampu meramalkan perbaikan dalam aspek-aspek positif dari penyembuhan setelah mengontrol tingkat pre pembedahan. Perasaan pertalian ditemukan menjadi predictor lebih penting dari pada optimisme dalam konteks ini. Bagaimanapun kedua factor kepribadian ini tidak memprediksikan perbaikan dalam penderitaan atau nyeri, dekat dengan factor perasaan pertalian adalah konsep integrity. Sampai sekarang tipe kepribadian yang lain belum dapat dijelaskan dengan gambling seperti halnya tipe A dan tipe ketabahan. Jelaskan, ditemukan banyak overlap antara konsep tersebut dan metode ukuran kurang konsisten. Disamping itu, masih ada kebutuhan untuk penelitian prospektif yang menyelidiki kualitas interaktif dari factor kepribadian tersebut, dengan variable kepribadian lainnya dan variable lingkungan. Kami akan memberi satu contoh yang menggambarkan kompleksitas factor-faktor kepribadian tersebut. Telah dinyatakan bahwa aspek-aspek hardiness meliputi aspek optimisme. Dalam gilirannya, optimisme telah diteliti dari perspektif atribusi; beberapa pengarang menyatakan bahwa optimisme dikaitkan dengan gaya atribusi seseorang. Atribusi-atribusi pada gilirannya, dikaitkan dengan keinginan untuk mengontrol lingkungan. Dan ini sebenarnya merupakan satu dari konsep dasar hardiness. Jadi, melangkah dari satu gaya kepribadian ke gaya kepribadian lain, kita tinggal dalam lingkaran setan. Jelaslah masih perlu banyak penelitian untuk menjelaskan hubungan antara tipe-tipe kepribadian dengan hasil kesehatan.
F. Terminologi Kesehatan
Kesehatan adalah salah satu konsep yang telah sering digunakan namun sukar dijelaskan artinya. Factor yang berbeda menyebabkan sukarnya mendefinisikan kesehatan, kesakitan dan penyakit. Meskipun begitu, kebanyakan sumber ilmiah setuju bahwa definisi kesehatan apapun harus mengandung paling tidak komponen biomedis, personal dan sosiokultural. Secara harfiah, konsep ini adalah suatu idealisasi yang tidak menganggap bahwa tidak tercapainya kesejahteraan yang sementara merupakan kekuatan yang mendorong perilaku manusia dalam kehidupan yang normal. Konsep ini kurang memandang kesehatan sebagai suatu proses dan tidak memiliki kesamaan dengan komponen khusus kesehatan. Meskipun demikian, dengan merubah focus terhadap aspek positif kesehatan dan memperluas lingkup dimensionalnya, definisi WHO memberikan pengaruh yang besar. Sebagai contohnya, hal ini mendorong yang lain untuk menjelaskan definisi tersebut.
G. Penyakit – Kesakitan
Penyakit (disease) dan kesakitan (illness), meskipun sangat berkaitan satu dengan yang lainnya, namun mencerminkan suatu perbedaan yang fundamental dan konsepsional tentang periode sakit. Jadi penyakit adalah sesuatu yang dimiliki suatu organ, sedang “illness” adalah sesuatu yang dimiliki seseorang. Kesakitan adalah respon subyektif dari pasien serta rsepon di sekitarnya, terhadap keadaan tidak sehat. Tidak hanya memasukkan pengalaman tidak sehatnya saja, tapi juga arti pengalaman tersebut bagi dia. Justru arti inilah menentukan bahwa penyakit atau gejala yang sama, bisa ditafsirkan secara sangat berbeda oleh dua pasien yang berasal dari budaya yang berbeda. Hal ini juga akan mempengaruhi perilaku mereka selanjutnya serta jenis perawatan yang dicari.
H. Perilaku Kesehatan
Definisi tersebut tidak hanya meliputi tindakan yang dapat secara langsung diamati dan jelas tetapi juga kejadian mental dan keadaan perasaan yang diteliti dan diukur secara tidak langsung. Sebagai tambahan, definisi komprehensif Gochman merangkum beberapa definisi dan atau klasifikasi perilaku kesehatan yang lain. Di Indonesia istilah “perilaku kesehatan” sudah lama dikenal dalam 15 tahun akhir-akhir ini konsep-konsep di bidang perilaku yang berkaitan dengan kesehatan ini sedang berkembang dengan pesatnya. Khususnya, di bidang antropogi medis dan kesehatan masyarakat. Haruslah dicatat bahwa istilah perilaku kesehatan dapat menimbulkan beberapa kesimpangsiuran. Istilah ini dapat memberikan pengertian bahwa kami hanya berbicara mengenai perilaku yang secara sengaja dilakukan dalam kaitannya dengan kesehatan. Kenyataannya banyak sekali perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, bahkan seandainya seseorang tidak mengetahuinya atau melakukannya dengan alas an yang sama sekali berbeda. Sebagai contoh, seseorang mungkin melakukan olahraga hanya untuk mengadakan hubungan social, bukan untuk menjaga kesehatan. Atau gosok gigi karena kebiasaan bukan karena alasan kesehatan.
I. Status Kesehatan
Status kesehatan adalah keadaan kesehatan pada waktu tertentu. Karena itu, status kesehatan tidak sama dengan perilaku kesehatan. Bagaimanapun, menurut Cochman, persepsi seseorang terhadap status atau persepsi peningkatan, kesembuhan atau perubahan lain pada status kesehatan adalah perilaku kesehatan.
Faktor Resiko dan Faktor Protektif
Faktor Resiko Dalam bidang kesehatan, konsep factor resiko (dan perilaku beresiko, kelompok beresiko) merupakan konsep kunci dalam penelitian, peningkatan teori serta pencegahan dan promosi kesehatan. Dulu, penggunaan konsep resiko merupakan biomedis yang memantulkan perhatian akan hasil yang merugikan yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas. Sebagai contoh, hipertensi dan kolesterol berserum tinggi merupakan factor resiko bagi penyakit kardiovaskuler. Akhir-akhir ini pencarian epidemiologi terhadap factor resiko penyakit dan kesakitan, khususnya bagi penyakit kronis, telah berkembang menjadi dua bidang baru lingkungan social dan perilaku. Komponen perilaku dapat dilihat dalam dua aspek perkembangan penyakit. Pertama, perilaku mempengaruhi factor resiko penyakit tertentu. Factor resiko adalah cirri-ciri kelompok individu yang menunjuk mereka sebagai at high risk terhadap penyakit tertentu. Sebagai contohnya, kelompok orang yang makan makanan dengan asam lemak yang tinggi biasanya meningkatkan derajat kolesterol serum, factor resiko bagi penyakit jantung koroner. Kedua, perilaku itu sendiri dapat berupa factor resiko utama baik bagi penyakit jantung koroner maupun kanker paru karena kemungkinan mendapatkan penyakit ini lebih besar pada perokok daripada orang yang tidak merokok. Tinjauan pustaka menyangkal bahwa ada konsesus mengenai beberapa perilaku beresiko yang menyolok. Kokeny menyebutkan diet, kegiatan fisik, merokok dan penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan, resiko lingkungan manusia dan resiko lingkungan. Psychosomatic medicine mulai memfokuskan diri pada pendekatan-pendekatan dan teori-teori baru yang menyangkut hubungan antara factor psikologis dan social, fungsi biologis dan psikologis, dan perkembangan masalah penyakit. Definisi ini secara jelas memantulkan adanya kesadaran akan pentingnya peran aspek-aspek psikologis dan perilaku di dalam perawatan kesehatan, sebaik kebutuhan suatu disiplin yang mengintegrasikan riset dan praktek perilaku di dalam perawatan medis. Walaupun paradigma dasarnya adalah model medis, keistimewaan relevansi disiplin ini ada karakter interdisiplinernya. Behavioral medicine, yang menghadapi kesehatan, kesakitan dan disfungsinya yang berkaitan, bersandar pada kontribusi macam-macam disiplin seperti psikologi, sosiologi, epidemiologi, neuroanatomi, imunologi, nursing, pekerja social dan banyak lagi yang lain. Topic-topik behavioral medicine adalah mekanisme penyakit (seperti : peran stress atau tipe A pada penyakit kardiovaskuler, kesabaran para pengambil keputusan, ketaatan, efektivitas pendidikan kesehatan, efektifitas modifikasi perilaku yang kurang sehat, efektifitas pengurangan secara langsung illness (asma, hipertensi, sakit kepala, dll) dan perilaku kesakitan/ illness behavior pada tingkat individu dan kelompok. Bagaimanapun, Gochan menentang bahwa behavior medicine menghadapi ketegangan, stress atau kecemasan dan penyimpangan non fisik lain yang mempunyai kaitan sangat penting dengan keseluruhan kesejahteraan individu, hanya kalau hal tersebut berkaitan dengan gangguan fisik yang khusus. Penting untuk dicatat adalah bahwa behavioral medicine akhir-akhir ini tidak hanya menekankan integrasi dari ilmu perilaku (behaviorism dan teori belajar yang murni, contohnya bio-feedback) dan ilmu biomedis dalam usaha – usaha perawatan kesehatan. Perubahan konsep kesehatan, evolusi dalam perawatan kesehatan dan evolusi lainnya, mengakibatkan penerapan psikologi yang baru dalam perawatan kesehatan dan masyarakat yang berikutnya : a. Pertama, psikologi cenderung menjadi lebih terapan (tidak hanya akademis) b. Kedua, masalah yang penting dari kesehatan (dan tidak hanya kesehatan mental), mempengaruhi sub disiplin psikologis, tidak hanya klinis tetapi juga sebagai contoh psikologi organisasi (contohnya, stress dan kesakitan dalam perusahaan). c. Faktor yang ketiga yaitu adanya keberhasilan yang terbatas dari psikodiagnostik dan intervensi individual (kuratif), dkebutuihan untuk pencegahan pada skala yang lebih besar (community approach). Oleh karenanya, lebih banyak pengetahuan, penelitian dan ketrampilan diperlukan untuk menyelidiki unsure penentu dasar perilaku